Dalam kehidupan masa kini, orang tidak bergantung pada tata musim tanam yang sudah diajarkan oleh tradisi. Musim tanam diatur sedemikian rupa karena orang-orang Jawa di jaman dulu telah mencoba memahami tanda-tanda musim.
Tanda-tanda musim ada dalam bulan-bulan tertentu yang kemudian disebut pranata mangsa. Setelah ajaran pranata mangsa ini diterbitkan, para petani menanam dan menabur sesuai dengan penanda musim.
Mereka menanam pada bulan tertentu. Misalnya menanam pada bulan di musim penghujan. Tidak menanam sewaktu musim kemarau. Demikianlah benih-benih ditanam sesuai dengan musim.
Benih yang ditanampun hasil olahan sendiri. Hasil panenan sendiri. Waktu itu belum ada teknologi rekayasa benih sehingga petani secara mandiri menyisakan hasil panenan untuk ditanam lagi.
Masyarakat agraris berusaha memahami alamnya. Musim bukan hanya soal kemarau dan penghujan tetapi juga soal hama.
Hama yang pertama misalnya soal tikus. Tikus bukanlah hewan yang dibasmi dan dimusuhi tetapi dianggap sebagai bagian dari rantai makanan. Kalau tikus mulai banyak berarti ada siklus rantai makanan yang terganggu.
Begitu lekatnya masyarakat agraris dengan tanah dan lingkungannya maka mereka berusaha memahami setiap tanda dan perubahan yang terjadi pada alam dan lingkungan mereka.

Tidak ada komentar:
Write komentar