11 Agustus 2016

Naik Dan Kapan Turunnya Harga Sembako

SOBAT MEDIA - Sembako, hanya dibicarakan oleh ibu-ibu, tetapi dibutuhkan oleh semua anggota keluarga. Sekali harga sembako merangkak naik, ibu-ibu mulai mempergunjingkan kenaikan ini dan sesekali mengeluh. Pengaruhnya cukup signifikan bagi keluarga pas-pasan. Bisa-bisa anggaran liburan dikurangi dan uang jajan untuk anak dipotong sedemikian rupa.

Demikianlah terjadi bagi satu keluarga dan mungkin akan terjadi pada keluarga lain yang masuk dalam golongan keluarga pas-pasan. Menanggapi soal ini, Yopi Pamungkas Saputro, pengamat ekonomi tinggal di Sragen memberikan pendapatnya.

Penyebab pertama naiknya harga sembako adalah faktor cuaca. Cuaca dalam bulan-bulan ini tidak menentu. Sawah-sawah, kebun, dan ladang terlanda banjir sehingga mempengaruhi hasil panen. Petani terancam gagal panen dan produk komoditas pertanian turun.


Yopie Pamungkas Saputro
Pengamat Ekonomi Lokal
Tinggal di Sragen
Belakangan, sebagian pihak meneliti benih yang kuat bila suatu kali terendam oleh banjir.

Turunnya produktifitas lahan pertanian menyebabkan ketersediaan komoditas menipis. Sesuai hukum penawaran, menurut Yopi Saputro bila barang tersedia melimpah maka harga turun. Distributor tidak segan-segan menaikkan harga bila ketersediaan menipis dan permintaan tinggi.

Sementara ini yang naik barulah harga cabai dan bawang merah. Harga beras relatif stabil setelah lebaran. Harga daging belumlah stabil diikuti dengan rempah-rempah dapur.

Untuk mengakali keadaan harga sembako seperti ini manfaatkan bahan pengganti, menurut Yopi Pamungkas Saputro. Bila terbiasa makan pedas maka kurangi konsumsi cabai. Bila terbiasa makan daging maka gantilah dengan telur atau tempe.

Tidak ada komentar:
Write komentar

Terbaru

Sistem Keamanan Lingkungan (SISKAMLING) Apakah Masih Diperlukan?

SOBAT MEDIA – Desa dengan berbagai aktifitasnya menuntut setiap warga untuk selalu sibuk. Warga tidak hanya bekerja soal pertanian dan pet...