Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan

25 September 2016

Cara Sederhana Memutus Rantai Bencana

SOBAT MEDIA - Kehidupan manusia tidak terlepas dari gejala Alam. Orang-orang desa khususnya melihat gejala alam tidak selalu positif. Ada gejala alam yang juga harus diwaspadai. Mereka mewaspadai bukan hanya soal memulihkan alam setelah “menggeliat” tetapi juga mencegah kerugian yang besar dari geliat itu.

Pada dasarnya manusia membutuhkan alam. Orang-orang desa melihat alam sebagai berkah dari Pencipta dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran manusia. Orang bisa mengolah alam dan kemudian mendatangkan keuntungan bagi kehidupan.

Sebegitu besarnya keuntungan yang diberi alam sehingga manusia sendiri merasa berhutang dan memelihara alam. Pengalaman hidup yang dirasakan oleh orang-orang selama ini bahwa semakin alam dipelihara semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. Bahkan keuntungan itu bisa diwariskan kepada anak cucu. Udara bersih, air bersih, dan tanah yang subur adalah harta warisan yang tak ternilai.

Kehidupan manusia kemudian berubah. Perubahan itu beriringan dengan kebutuhan dan keinginan manusia yang semakin kompleks. Manusia juga semakin bertambah banyak. Pikiran orang juga semakin maju. Mulailah dirasakan bahwa manusia sudah bisa mengendalikan alam.

Eksploitasi alampun dilakukan besar-besaran. Tidak pandang buluh. Apapun bisa menjadi korban. Hewa, tumbuhan, dan lingkungan dieksploitasi untuk keuntungan manusia. Akibatnya keseimbangan terganggu dan jadilah musibah seperti sekarang ini; banjir, kekeringan, tanah longsor, dan kebakaran hutan.

Lalu bagaimana cara memutus rantai musibah itu? Mulailah dari diri sendiri untuk memelihara dan mulai mencintai alam. Sejimpit cinta kita pada alam akan berdampak besar bagi pelestarian lingkungan.

15 September 2016

Desa Membangun Visi Indonesia Bersih Tahun 2020

 
SOBAT MEDIA - Indonesia bersih bisa dibilang Indonesia yang terbebas dari polusi. Polusi bisa berasal dari sampah, pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran nama baik mungkin, hehe... ya begitulah Indonesia bersih, Indonesia yang terbebas dari polusi.

Indonesia bersih memang didukung penuh oleh desa. Desa bersih maka sebagian besar wilayah Indonesia bersih karena sebagian wilayah darat Indonesia adalah pedesaan. Bagaimana membangun desa yang bersih?

Pertama desa harus terbebas dari sampah plastik. Gunakan plastik yang sudah dipakai dan hindari penggunaan plastik baru. Di desa bisa dijumpai dedaunan untuk pembungkus. Penggunaan daun untuk bungkus bisa meminimalisir penggunaan plastik.

Kedua, desa tidak perlu lagi membakar barang yang tidak perlu. Jadi pembakaran di pekarangan rumah perlu dikurangi untuk meminimalisir asap yang mengepul di udara.

Ketiga, Desa memang menjadi tempat peresapan air yang bagus. Banyak lahan terbuka hijau. Lahan-lahan ini tidak perlu dibeton dan harus dibiarkan terbuka untuk tampungan air. Bahan-bahan kimia juga jangan dibuang sembarangan. Bisa bahaya kalau bahan kimia ini teresap di tanah, air bisa tercemar.

Demikianlah terjadi nantinya. Kebersihan desa mendukung Indonesia bersih. Pemerintah kita juga sudah mulai intensif menggarap wilayah pedesaan. Kiranya desa bersih dapat mendukung tercapainya visi Indonesia bersih tahun 2020.

25 Agustus 2016

Profesional Berbisnis di Sela Hobi Travelling



SOBAT MEDIA - Era digital dan arus informasi yang semakin deras, memudahkan setiap orang untuk melakukan banyak hal. Orang bisa melakukan suatu aktifitas dengan cepat sehingga dengan mudah melanjutkan aktifitas lainnya. Dalam sehari, orang bisa melakukan bermacam-macam aktifitas karena kemudahan transportasi dan komunikasi seperti sekarang ini.

Demikian yang dilakukan oleh mbak Danik. Traveller asal Klaten, Jawa Tengah ini telah menunjukkan hobi travellingnya beberapa waktu yang lalu kepada Sobatmedia.info. Dalam perjalanannya itu, Danik membagikan refleksinya pada kita tentang alam.

Sekarang Danik, seorang muda bernama lengkap Danik Dwijayanti ini, punya pengalaman baru yang layak untuk dibagikan kepada Sobat Media dimanapun berada. Pengalaman ini didapat dari usaha keluarga berupa pembenihan ikan.

Dalam usia muda, hobi sebagai traveler, seorang perempuan, tidak menyurutkan langkahnya untuk belajar dan menekuni usaha pembenihan ini. Sangat sulit menemukan seorang muda yang mau mengusahakan sektor perikanan ini. Sebagian kaum muda membayangkan dirinya bekerja di perkantoran sebagai seorang eksekutif muda. Namun, Danik berusaha untuk keluar dari box pemikiran mainstream bahwa kesuksesan diraih bukan soal dasi dan kemeja kantoran. Kesuksesan juga bisa diraih dengan mengusahakan sektor ternak dan perikanan, seperti yang dia lakukan selama ini.

Sekalipun bisnis pembenihan ikan telah berjalan, Danik mengaku belum masuk dalam tahap professional. “Aku cuma lagi merintis…” ungkap Danik kepada Sobatmedia.info.

Untuk pembenihan, Danik mengusahakan 5 kolam. Lima kolam pembesaran diusahakan oleh bapak. Sementara tiga kolam pembesaran diusahakan oleh Danik sendiri.

Danik mulai melanjutkan dan mengembangkan bisnis keluarga awal 2016 yang lalu. Berawal dari budidaya lele dumbo lalu berkembang ke Nila dan Gurameh.

Kendala dalam bisnis ini adalah persoalan jamur pada ikan. Danik mengatakan ikan di bawah umur 1 bulan itu rentan dengan penyakit. Dalam bisnisnya ini ada juga kendala soal pemasaran.


11 Agustus 2016

Kemilau Kedamaian Terpantul dari Umbul Ponggok

SOBAT MEDIA - Orang-orang desa memang bisa saja berselisih. Perselisihan itu misalnya disebabkan oleh perbedaan paham soal batas tanah, selisih tentang perencanaan desa, atau adanya ternak tetangga yang menyeberang “tanpa ijin” ke wilayah kita. Namun, perselisihan itu tidak bertahan lama. Orang-orang desa punya mekanismenya sendiri untuk meredakan suasana, membuat segala sesuatunya pulih dan harmoni mewujud kembali.

Batas tanah biasanya menjadi potensi konflik bila satu pihak tidak sepakat dengan tetangga. Namun, potensi konflik itu tidak kita temui bila berkunjung ke Umbul Ponggok, desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Desa Ponggok berbatasan langsung dengan kecamatan tetangga, Karanganom, tepat di sisi selatan Umbul Ponggok. Justru warga terlihat hidup berdampingan dan mampu menjadi pelaku usaha yang saling menguntungkan.

Umbul Ponggok merupakan wisata air yang populer di Kabupaten Klaten. Sekitar 20 menit ke arah timur laut dari kota Klaten kita akan sampai di desa Ponggok. Airnya jernih karena bersumber langsung dari mata air Ponggok. Ribuan ikan menghiasi penyelaman dan peralatan menyelam dan dokumentasi disewakan oleh pengelola Umbul.

Pak Dalman, seorang pelaku usaha kantin di Umbul Ponggok menyatakan, wisata air ini telah dibuka kurang lebih dua tahun yang lalu. Sisi selatan dari Umbul termasuk wilayah kecamatan Karanganom. Warga hidup rukun dan saling berdampingan menjalankan usaha. Umbul Ponggok dikelola oleh desa Ponggok sendiri. Hidup harmoni melancarkan rejeki dan kehidupan ekonomipun menggeliat positif. 

Naik Dan Kapan Turunnya Harga Sembako

SOBAT MEDIA - Sembako, hanya dibicarakan oleh ibu-ibu, tetapi dibutuhkan oleh semua anggota keluarga. Sekali harga sembako merangkak naik, ibu-ibu mulai mempergunjingkan kenaikan ini dan sesekali mengeluh. Pengaruhnya cukup signifikan bagi keluarga pas-pasan. Bisa-bisa anggaran liburan dikurangi dan uang jajan untuk anak dipotong sedemikian rupa.

Demikianlah terjadi bagi satu keluarga dan mungkin akan terjadi pada keluarga lain yang masuk dalam golongan keluarga pas-pasan. Menanggapi soal ini, Yopi Pamungkas Saputro, pengamat ekonomi tinggal di Sragen memberikan pendapatnya.

Penyebab pertama naiknya harga sembako adalah faktor cuaca. Cuaca dalam bulan-bulan ini tidak menentu. Sawah-sawah, kebun, dan ladang terlanda banjir sehingga mempengaruhi hasil panen. Petani terancam gagal panen dan produk komoditas pertanian turun.


Yopie Pamungkas Saputro
Pengamat Ekonomi Lokal
Tinggal di Sragen
Belakangan, sebagian pihak meneliti benih yang kuat bila suatu kali terendam oleh banjir.

Turunnya produktifitas lahan pertanian menyebabkan ketersediaan komoditas menipis. Sesuai hukum penawaran, menurut Yopi Saputro bila barang tersedia melimpah maka harga turun. Distributor tidak segan-segan menaikkan harga bila ketersediaan menipis dan permintaan tinggi.

Sementara ini yang naik barulah harga cabai dan bawang merah. Harga beras relatif stabil setelah lebaran. Harga daging belumlah stabil diikuti dengan rempah-rempah dapur.

Untuk mengakali keadaan harga sembako seperti ini manfaatkan bahan pengganti, menurut Yopi Pamungkas Saputro. Bila terbiasa makan pedas maka kurangi konsumsi cabai. Bila terbiasa makan daging maka gantilah dengan telur atau tempe.

27 Juni 2016

Konservasi Sederhana: Solusi Membangun Cadangan Air

SOBAT MEDIA - Konservasi air. Konservasi dilakukan dengan cara membuat lubang. Lubang air ini dapat menampung air yang tidak digunakan melalui jalur air sehingga air tidak terbuang sia-sia. 

Air yang tersimpan dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Di samping itu, fungsi utama lubang air ini yaitu mengisi kembali air tanah sehingga permukaan air tanah dapat naik.

Lokasi: Kelle, Tubuhue Amanuban Barat kab. Timor Tengah Selatan (Juni 2016) 

Penulis: Elisabet Novia Listiawati
Foto: Elisabet Novia Listiawati

Ini Pesan Baik Pemerintah Agar Belanja Secukupnya

SOBAT MEDIA - “monggo belonjo sakcekape mawon”. Inilah tulisan di baliho-baliho Yogyakarta yang berarti mari belanja secukupnya saja. Pemerintah DIY melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengajak agar warga belanja seperlunya, tidak perlu memborong, yang penting apa yang dibutuhkan sudah dibeli.

Himbauan ini bukan berarti tanpa alasan. Naiknya harga kebutuhan pokok memang telah menjadi persoalan ketika kita akan memasuki lebaran. Permintaan naik dan keadaan ini menjadi alasan beberapa pihak untuk menaikkan harga.

Pemerintah telah baik dalam mendidik warganya. Belanja seperlunya juga berarti mengikis gaya hidup konsumeris. Kadang bahan-bahan yang tidak kita butuhkan malah terbeli hanya karena mata kita sangat ingin memilikinya. Tidak tahu gunanya apa, tidak tahu butuhnya mana yang lebih mendesak. 

Maka sekarang, marilah kita membeli yang kita butuhkan saja. Jangan sampai tergiur oleh tawaran-tawaran yang belum tentu kita butuhkan. Salut untuk pemerintah daerah yang mau mendidik warganya untuk hidup sederhana. 

13 Juni 2016

Biji mete; Kekayaan Hayati Sumber Ekonomi Sumba

Penulis: Marliani Yakoba Betriks Lay*

SOBAT MEDIA - Sumba adalah salah satu daerah dengan berbagai ragam komoditas. Komoditas itu berasal dari tanaman keras atau berumur panjang. Salah satu tanaman umur panjang yang menjadi sumber pendapatan masyarakat Sumba adalah Jambu Mete.

Tanaman ini kebanyakan terdapat di wilayah selatan Sumba Timur (Pinu Pahar) dan wilayah (Kodi) Sumba Barat daya. Jambu mete dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan utama warga. Para pengusaha biji mete membeli komoditas dari masyarakat dan menjualnya ke luar pulau.

Biasanya biji Mete dipasarkan ke Kupang, Denpasar, dan Surabaya. Pemasaran ini semakin luas seiring bertambahnya pengetahuan masyarakat Sumba tentang manfaat biji mete.

Selama ini, mete, sebutan untuk menyebut biji buah jambu mete, hanya digunakan untuk pakan hewan ternak. Daging buah hanya digeletakkan begitu saja dan kemudian ternak akan memakan daging buahnya. 

Beruntunglah masyarakat karena dalam sepuluh tahun terakhir, biji mete sudah mulai dilirik. Nilai jualnya semakin tinggi. 

Kondisi ini sebenarnya menguntungkan warga yang mengusahakan biji mete. Pertama, petani akan mendapatkan untung karena telah mendapat mata pencarian baru.

Kedua, biji mete sebenarnya juga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh khas Sumba. Hal ini senada dengan program pemerintah bahwa daerah jangan mengekspor bahan mentah. 

Ketiga, biji mete juga mengangkat neraca perdagangan daerah karena meningkatkan pendapatan daerah. ***

Mahasiswi Sekolah Tinggi Teologi GKS Lewa
Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

12 Juni 2016

Sejenak Menelisik Pantai Modulambi, Sumba Timur


SOBAT MEDIA - Riak-riak air itu menghantam karang di pantai selatan Sumba. Matahari kian tinggi tetapi udara kian sejuk. Itulah sekelumit keadaan pantai Modulambi, Desa Modulambi, Kecamatan Letis, Kabupaten Sumba Timur.

Diana Timoria, seorang aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkedudukan di Sumba Timur, mengunjungi pantai Modulambi dengan waktu yang bervariasi.

Memang pengunjung tidak hanya disuguhi oleh pemandangan pantai, tetapi satu atau dua jam perjalanan kita disuguhi oleh pemandangan alam, interaksi hewan-hewan, sapaan dedaunan tumbuhan hijau, serta kehidupan masyarakat yang ada di sepanjang perjalanan.

“...kadang satu jam, atau dua jam. Beda-beda. Sesekali harus berbicara dulu dengan warga dan foto-foto,” ungkap Diana.

Memang perjalanan waktu tidak dapat dipastikan lamanya ketika hendak berwisata. Menurut Diana, waktu tempuh bergantung kita gunakan kendaraan apa atau dengan siapa kita berkendara. Mungkin butuh waktu lama bagi dua orang berpacaran karena ngobrol sepanjang jalan. Hehe..

Sewaktu selesai monitoring penelitian Jamban di desa Modulambi, Diana menyempatkan diri untuk mengunjungi pantainya. Desa yang indah harus disertai dengan jaminan sanitasi warganya.

Diana kerjakan di sini. Kehidupan sanitasi warga desa dipantau untuk memberikan daya dukung pengembangan ekowisata.

Pantai modulambi membuat kita merasa kecil di alam, mewah menjadi diri sendiri, bebas berpikir dan bahagia atas anugerah sang Pencipta, ungkap Diana.

06 Juni 2016

Sobat Media Ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

SOBAT MEDIA - Hari boleh melelahkan, pekerjaan memang selalu menuntut peluh dan keringat, tetapi di tengah keadaan ini, hati haruslah tetap terjaga kemurniannya.

Inilah salah satu tujuan ibadah puasa. Yakni kita semua mampu untuk membersihkan hati dari rasa iri dengki dan sakit hati.

Bulan puasa juga dimaknai sebagai bulan berbagi. Berbagi bisa apapun yang kita miliki; harta milik, ide, waktu, tenaga, perhatian. Berbagi juga bisa berupa memberi kebahagiaan lewat senyuman.

Berbagi kemudian dimaknai secara meluas, beragam, dan menyublim dalam berbagai bentuknya. Setiap orang kemudian dipanggil untuk berbagi. 

Apakah dampaknya ketika orang mulai membagikan apa yang dimiliki? Tentu saja dampaknya sangat masif, bahkan tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya oleh orang-orang biasa.

Berbagi bisa membuat anak-anak di pedalaman dan dimanapun berada, dapat mengenyam pendidikan dengan nyaman. Karena orang berbagi maka sekolah bisa diperbaiki, buku-buku dapat terdistribusi, dan ilmu dapat masuk dalam kepala di usia dini.

Berbagi juga membuat para ibu merasakan kebahagiaannya. Karena orang-orang berbagi maka fasilitas dapat dibangun. Fasilitas kesehatan yang dibangun karena orang berbagi akan dapat menanam senyuman bagi banyak orang di daerah-daerah terpencil.

Demikian kuatnya orang berbagi. Maka sekarang segenap keluarga besar Sobatmedia.info mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Kiranya amal kita diterima di sisi Allah.

Jerry Linggit: Menunggang Kuda Sejak Belia

SOBAT MEDIA - Jerry, seorang mahasiswa Yogyakarta berkampung di Kaninumbaru, Kec. Matawailapau, Kabupaten Sumba Timur, terpilih sebagai joki termuda versi SOBAT MEDIA 2016. 

Ia mengaku memegang kuda sejak kelas 1 SD. Usia ini cukuplah belia bagi seorang anak. Di kala anak-anak pada umumnya masih bermain boneka dan mobil-mobilan, Jerry sudah merawat kuda tunggangnya.

Awalnya memang coba-coba, ia dilatih oleh orangtuanya. Tapi kemudian kelihaiannya bertambah seiring berjalannya waktu.

Saking lekatnya dengan kuda, Jerry sampai-sampai hafal di luar kepala makanan kudanya. Untuk kuda ternak (bukan kuda pacu) cukuplah diberi rumput hijau yang tersedia melimpah di padang.

Sementara untuk kuda pacuan punya perlakuan khusus. Kuda pacu tidak hanya makan rumput hijau, asupannya bisa ditambah dengan jagung giling, sama kacang hijau, dan Pa’o sama brem.

Jerry tidak hanya tahu soal makanan saja. Tetapi dia tahu betul apa yang menjadi kebutuhan kudanya. “...(kuda) dimandikan supaya segar, dimandikan sewaktu sore dan dan pagi, kata Jerry.

Kuda yang dimandikan terlatih kakinya. Bila terbiasa masuk air maka kakinya akan lebih ringan berlari di lintasan pacu.

Ini lain soal lagi, kuda itu memiliki masa kehamilan 10 bulan. Jarang ada yang mati, semua bayi kuda terlahir sehat.

Kuda juga digunakan oleh orang-orang jaman dulu untuk angkutan. 

28 Mei 2016

Pantai Belu Dan Sejuta Pesona Karang Berlumut!


SOBAT MEDIA - Mei 2016 adalah bulan yang penuh dengan berkah bagi Elsabet Novia Listiawati, seorang muda asal Karanganyar yang sedang bekerja di Soe, Nusa Tenggara Timur. Dalam sela-sela penugasan, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi pantai Pasir Putih di Kecamatan Atapupu, Kabupaten Belu, NTT.

Hiruk pikuk kehidupan perkotaan membuatnya jenuh dan sesekali ingin menceburkan diri dalam lautan. Polusi, kemacetan, dan kebisingan, membuat dirinya langsung mengambil bagian dalam suatu misi di tanah cendana. Tanah cendana menawarkan sejuta petualangan yang senantiasa membuat kepalanya segar kembali.

Saat itu mbak Elis, sapaan akrabnya, ditemani matahari yang berada tepat di atas ubun-ubun. Tapi sudahlah, hempasan angina laut cukup untuk menyejukkan dahinya yang kering.

Pantai ini sepenuhnya beralaskan karang dan lumut. Hijau dan cukup untuk menggambarkannya sebagai karpet alam yang disediakan oleh sang Pencipta. Andaikan bias melayang, tentulah bibir pantai ini akan disebut sebagai permadani terbang raksasa yang siap mengantarkan orang kepada kesejukan jiwa.

Matahari siang itu memang terik, tapi karena pantai yang terjaga maka Belu seolah menyiurkan angin surga. “airnya jernih sekali…” tambah Elis. Dia berendam seharian dan saat senja hari baru mengentaskan diri.

Dari kejauhan tampaklah burung-burung yang menyasar ikan-ikan laut. Hewan-hewan itu mengoak dan saling berbagi makanan dan berlarian.

Pantai Pasir Putih di Kabupaten Belu ini sungguhlah menimpan pesona. Kiranya semakin banyak orang yang mengunjunginya.

27 Mei 2016

Savana Hijau, Inspirator Kedamaian Tanah Cendana


SOBAT MEDIA - Hijau, hijau, dan hijau, inilah warna kedamaian yang membentang luas di tanah cendana musim penghujan. Dari ujung barat Waitabula hingga Waijelo semuanya menghamparkan karpet hijau.

Sepotong kedamaian surga itu jatuh di tanah Lewa, suatu kecamatan di Kabupaten Sumba Timur.

Jajaran rumput ilalang membentang pada savana tanah Lewa. Hijau di musim penghujan dan kuning kecoklatan di musim kemarau, demikianlah keadaannya.

Rumput menghijau demikian menjadi berkah. Para peternak tidak ragu melepaskan ternaknya pada bentangan alam yang mendamaikan ini. Warga Lewa Umamanu telah lama mengusahakan savana sebagai sumber penggerak kehidupan ternak mereka.

Hujan memang tidak turun sepanjang tahun. Tetapi pada waktu-waktu tertentu hujan turun dan menghijaukan padang. Aktivis tanah Lewa, Betrik Lay menyatakan,”...pada awal tahun, Lewa sering hujan, jadi masih hijau.”

Menurut pengamatan Betriks, orang-orang memanfaatkan savana untuk ternak. Bila musim hujan berakhir maka savana dibakar agar tumbuh rumput hijau di musim penghujan tahun depan.

Pembakaran savana tidak sepenuhnya menguntungkan karena bisa mengganggu keseimbangan kandungan unsur hara tanah. Polusi udara akan meningkat akibat pembakaran ini.

Savana hijau bisa dikembangan menjadi objek wisata. Semua orang yang mengunjungi akan mendapat kepuasan. “pemandangannya begitu indah dipandang mata dan menyejukkan hati,” kata Betriks.

Tempat ini bisa dijadikan sumber inspirasi dan refleksi.

24 Mei 2016

Inilah Cara Warga Gunungkidul Membranding Daerahnya

SOBAT MEDIA - Bukan hanya keramahan penduduk dan keindahan alam, daya tarik suatu daerah itu juga ditentukan oleh cara daerah tersebut membranding potensi dan aset yang dimilikinya.

Begitu pula terjadi pada warga Gunungkidul. Selain etos kerjanya yang tinggi, warga juga memperhatikan masa depan bersama sebagai wujud tanggung jawab kepada anak cucu. Tanggung jawab kepada anak cucu berupa warisan budaya dan nilai yang tidak akan lekang oleh waktu.

Warganya cerdas dan bekerja keras, demikianlah harapan warga kepada daerahnya. Harapan-harapan itu kemudian termaktub dalam cara warga membranding daerahnya sendiri.

Brand Gunungkidul yang lain adalah kebudayaan yang tetap lestari. Kesenian rakyat senantiasa menghibur ketika warga menyelenggarakan pesta atau syukuran komunal. 

Setiap perayaan tidak selalu membutuhkan biaya tinggi. Yang penting warga sudah bergotong royong berupa usaha, dana, dan daya, itu sudah cukup untuk menyelenggarakan perhelatan.

Seiring perjalanan waktu, bukan hanya tradisi dan seni saja yang dilestarikan, alampun dibiarkan lestari. 

Masih banyak hutan yang luas hijau menghampar dan sungai yang jernih mengalir. Fauna bercengkerama harmonis dengan suara-suara angin.

Lalu bagaimana cara orang Gunungkidul bisa membranding daerahnya? Simpel saja, cintai sesama manusia, Alam dan Pencipta demi keharmonisan.

23 Mei 2016

Visi Gunungkidul Sebagai Kabupaten Maritim

SOBAT MEDIA - Gunungkidul dalam perkembangannya terus menunjukkan pesona dalam berbagai lini. Mulai dari sarana-prasarana yang terus diperbaharui hingga optimalisasi potensi ekonomi dan budaya, semua diarahkan menjadi sumber kesejahteraan warga. Muncullah sekarang pesona dan sejahtera menghiasi langit Gunungkidul. Sekarang saatnya menyambut visi Kemaritiman Indonesia menjadi negara Maritim yang kemudian didaratkan dengan membangun Gunungkidul berbasis maritim.

Bukan sesuatu yang muluk-muluk bila kita ingin menjadikan suatu kabupaten berbasis Maritim. Semuanya mungkin karena potensi sudah ada. Tinggal dikembangkan saja. Disebut potensi karena daya dukung sumber daya sudah mumpuni. Wilayah dengan muka laut menjadikan Gunungkidul berwajah bahari yang maha luas.

Dalam jarak tertentu, ikan-ikan hidup dan berkembangbiak. Nelayan mendapatkan keuntungan dari kondisi geografis ini.

Selain melaut, potensi Maritim Gunungkidul juga digarap dan dioptimalkan melalui pemanfaatan bibir pantai. Beberapa pantai seperti Baron, Sepanjang, dan Gesing sudah mulai dijadikan lokasi budidaya lobster.

Potensi lobster cukup besar baik dari kemudahan budidaya sampai kepada pola pemasaran hasil budidaya. Permintaan lobster dalam negeri dan ekspor cukup tinggi. Untuk menjaga keberlangsungan potensi bahari, pemerintah larang ekspor benih lobster di bawah 200 gram.

Bukan sekedar budidaya laut, visi pembangunan maritim Gunungkidul juga nampak dari pengembangan sektor wisata. Mulai dari wisata bahari hingga wisata bibir pantai. Keberlangsungan pembangunan dan pemeliharaan kiranya terus-menerus diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat agar visi Gunungkidul menjadi kabupaten maritim semakin nyata.

22 Mei 2016

Tepung Singkong (Mocaf) Bisa Digunakan Untuk Apa?

SOBAT MEDIA - Modified Cassava Flour (Mocaf) adalah bahan olahan singkong yang memiliki banyak fungsi. Kandungannya yang kaya vitamin membuat mocaf memiliki beberapa keunggulan dibandingkan bahan tepung yang lain. 

Bila ingin membuat kue atau penganan yang aman maka pakailah mocaf karena kandungannya aman bagi pencernaan. Bahan makanan yang lain seperti tepung gandum dan beras memiliki kandungan gluten yang lebih tinggi sehingga lebih beresiko pada pencernaan.

Sekalipun demikian, tekstur makanan hasil olahan mocaf lebih kenyal sehingga menambah citarasa makanan. Karena aroma singkongnya sudah sirna, maka aroma mocaf membuat makanan menjadi semakin lezat dan nikmat untuk disantap.

Di Gunungkidul sendiri bahan olahan Mocaf sudah dikenal oleh penduduknya. Penduduk menggunakan tepung mocaf untuk bahan pembuatan kue kering, jajanan pasar, dan dibentuk menjadi butiran padat dan dimasak seperti menanak nasi.

Sambut Tamu, Orang Gunungkidul Lakukan Ini!

SOBAT MEDIA - Bertamu pada masing-masing daerah memiliki tata cara berbeda. Ada tamu yang disambut dengan ritual tertentu. Tanda ritual menentukan tamu tersebut diijinkan masuk atau tidak. Ada daerah yang menyambut tamu dengan upacara adat. 

Tamu harus meminum ramuan tertentu, berjalan dalam jarak tertentu, atau makan bahan-bahan lokal yang diberikan oleh ketua adat setempat.

Di Gunungkidul, orang bisa bertamu kemana saja dan kapan saja. Asal saja waktunya tepat (tidak malam sewaktu orang tertidur pulas) maka warga Gunungkidul siap untuk membukakan pintu.

Dalam menyambut tamupun, orang Gunungkidul mempertimbangkan tiga hal utama. Tiga hal tersebut yakni:

Pertama, lungguh. Lungguh berarti duduk atau tumpuan bermakna tuan rumah haruslah mempersiapkan tempat dan peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan bertamu. Misalnya saja, tikar untuk tamu yang lesehan. Kursi untuk tamu yang ingin duduk di kursi.

Kedua, gopoh. Gopoh bermakna bahwa tuan rumah harus senantiasa berusaha menyenangkan tamu. Sambutan yang diberikan selalu diatur semeriah dan semarak mungkin. Suasana hangat dan ramah adalah kunci menyenangkan tamu.

Ketiga, suguh. Tamu yang datang juga diberi jamuan. Ada suguhan nikmat yang mengundang selera. Bila tidak ada haruslah diadakan.

Dengan pertimbangan inilah orang-orang mempertimbangkan dapat menerima tamu atau tidak. Tamu disambut sedemikian rupa maka Tepatlah pepatah “tamu adalah raja”.

17 Mei 2016

Harmonisasi Sinabung: Bukti Sinergi Manusia Dan Ciptaan

SOBAT MEDIA - Gunung Sinabung terletak di Kabupaten Tanah Karo. Tiga kecamatan kabupaten ini terletak di lereng Sinabung. Sewaktu sinabung meletus, warga sekitar lereng mengungsi.

Sekalipun mengungsi, penghayatan dan pengharapan warga lereng tidak berubah. Mereka yakin bahwa Sang Pencipta punya rencana.

Mayoritas penduduk lereng adalah Petani. Lahannya yang subur membuat penduduknya makmur dan berkonsen pada bidang pertanian.

Lahan-lahan digarap dan kemudian menghasilkan varietas khas nan unggulan: jeruk medan. Orang lebih mengenal dengan jeruk Brastagi.

Selain jeruk, komoditas pertanian yang dihasilkan warga lereng Sinabung adalah cabe dan tomat.

Kondisi ini seketika berubah ketika puncak Sinabung meletupkan amarah. Tumbuhan lereng diterjang awan panas. Semuanya luluh lantak dan tidak menyisakan suatupun yang hidup. Warga di tiga kecamatan yakni Simpang Empat, Tiga Nderket, dan Naman Teran mengungsi.

Sinabung dipandang sebagai pemberi hidup. Apapun bisa menghidupkan. Orang-orangnya mendapat berkah.


Repita Sembiring Meliala
Tokoh Masyarakat Karo
Repita Sembiring Meliala, seorang tokoh dari Tanah Karo mengungkapkan penduduk merasa lalai mensyukuri berkat maka jadilah bencana. “...tapi kenapa begitu lama Sang Pencipta marah?” tambahnya ketika mengutip ucapan warga terdampak.

Ungkapan demikian sesungguhnya bukanlah ungkapan keputusasaan. Karena warga tidak kehilangan harapan. Menurut Repita, warga tetap berharap relokasi dapat menjanjikan hidup baru dan usaha ekonomi yang baru.

“...relokasi cepat terlaksana,” demikian harapan warga yang terdampak letusan gunung Sinabung dan sedang mengungsi. 

Warga lereng Sinabung begitu mencintai alamnya karenanya tidak kehilangan harapan untuk hidup yang lebih baik. 

Inilah Permainan Yang Bisa Dijumpai di Gunungkidul

SOBAT MEDIA - Jaman sudah berjalan begitu cepat. Semuanya seolah berkembang dan berubah mengikuti perjalanan waktu. Yang dulu tradisionil (pake tenaga manusia dan serba manual) sekarang jadi pake mesin dan serba digital.

Demikian juga dengan permainan. Dulu banyak banget permainan yang mengandalkan pikiran, kecerdikan, dan ketangkasan otot. Sekarang semua serba digital yang cukup mengandalkan jari-jari dan pikiran tanpa perlu mengucurkan keringat.

Dari sisi waktu dan energi memang cukup efisien, tapi dari sisi kebugaran ya merugikan. Games di gadget tidak melatih kebugaran otot sehingga resiko jatuh sakit sudah di depan mata.

Sedemikian pesatnya laju perkembangan permainan di kalangan anak-anak dan dewasa menjadikan kita kesulitan untuk mencari permainan tradisional. Tapi jangan melulu cemas dengan perkembangan. Di Gunungkidul sendiri, orang masih bisa menemukan permainan tradisional di lingkungan tempat tinggal warga.

Yang mungkin anda akan temui biasanya adalah lompat tali. Itu yang pertama, lompat tapi bisa menggunakan karet ataupun tumbuhan merambat. Dulu permainan ini adalah untuk anak-anak perempuan tetapi bisa juga dimainkan oleh laki-laki.

Yang kedua adalah engklek atau sunda manda atau pecle dalam bahasa Sunda. Permainan ini menggunakan batu atau lempengan tembikar untuk gacuk. Kotak yang terdapat gacuk ini boleh dan tidak boleh diinjak.

Yang ketiga adalah slodoran atau gobak sodor. Pola permainan sama anak-anak dibagi dalam dua kelompok dan satu kelompok berjaga sementara kelompok yang lain berusaha melewati empat jendela tanpa tersentuh.

Yang keempat adalah jumpritan atau jetong delikan. Permainan ini mewajibkan anak-anak untuk bersembunyi dan harus berjaga ketiga ketahuan.

Daftar permainan lain yang bisa dijumpai adalah balap karung, egrang, bethik, dakon/congklak, bentengan, ular naga panjangnya, cublak-cublak suweng, gasing, ketapel, dan gundhu/kelereng.

16 Mei 2016

Potensi Ubi Kayu ini Dimanfaatkan Warga Gunungkidul

SOBAT MEDIA - Ubi kayu adalah tumbuhan yang sudah lama sekali dimanfaatkan oleh masyarakat Nusantara. Dari Merauke hingga ke Sabang, orang tidak lagi asing terhadap ubi kayu. Sebagian bahkan menggunakan Ubi kayu untuk sumber makanan pokok selain beras, jagung, dan sagu.

Manfaat ubi kayu atau yang biasa disebut singkong ini, ternyata juga dirasakan oleh warga Gunungkidul. Berikut adalah bahan olahan ubi kayu yang biasa kita jumpai di wilayah Gunungkidul;

1.Keripik ubi
Cara membuatnya cukup mudah. Cukup iris ubi kayu tipis-tipis lalu rendam dalam bumbu yang sudah disiapkan. Setelah itu goreng dalam suhu minyak goreng yang cukup. Keripik cukup populer digunakan sebagai camilan dan snack di sekolah-sekolah.

2.Kerupuk Singkong
Kerupuk singkong dibuat dari ubi yang dihaluskan (biasanya diparut). Warga mencampur parutan dengan rempah lalu dikukus. Setelah dikukus, adonan kemudian dijemur dan digoreng setelah kering.

Baca juga : Embung Batara Sriten: Wujud Perhatian Pemerintah dan Masyarakat Gunungkidul Terhadap Pelestarian Air

3.Gethuk
Gethuk adalah singkong yang dilembutkan kemudian dikukus bersama dengan gula atau bumbu pengharum yang lain.

4.Gathot
Gathot adalah ubi yang dikeringkan dan kemudian dikukus. Cara penyajiannya cukup ditaburi parutan kelapa.

5.Mocaf
Mocaf adalah sebutan dari tepung singkong. Mocaf berbentuk tepung dan bisa diolah hingga berbentuk beras. Dengan mengolah singkong menjadi mocaf, warga mendapatkan income tambahan karena nilai jual singkong meningkat.

6.Sumber Ethanol
Sobatmedia belum menjumpai warga yang mengolah singkong menjadi ethanol. Namun, pemanfaaan singkong menjadi sumber energi baru yang layak untuk dikaji dan dikembangkan dalam rangka pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil.

Terbaru

Sistem Keamanan Lingkungan (SISKAMLING) Apakah Masih Diperlukan?

SOBAT MEDIA – Desa dengan berbagai aktifitasnya menuntut setiap warga untuk selalu sibuk. Warga tidak hanya bekerja soal pertanian dan pet...