11 Januari 2017

Harga Cabai Tinggi, Kenapa Berlebihan Bereaksi?

SOBAT MEDIA -  Cabai menjadi kebutuhan pokok. Semua orang merasa wajib untuk mengonsumsinya. Citarasa Nusantara menjadi fana ketika bahan makanan yang satu ini tidak tersedia di meja makan. Memang ada masyarakat yang tidak doyan pedas, ada juga gemar mengonsumsi makanan pedas, tetapi entah banyak atau sedikit, orang tetap saja merasa harus mengonsumsi cabai.

Karena cabai dikonsumsi orang dari berbagai latar dan lapisan, maka setiap orang juga merasa perlu untuk berkomentar untuk kenaikan harganya. Bayangkan saja bila harga cabai mencapai Rp.100.000,- perkilogram? Tentu tidak salah bila orang berbondong-bondong untuk memberikan tanggapan.

Kelompok masyarakat pertama yang memberikan komentar adalah pemerintah. Harga cabai tinggi maka bersegera untuk meninjau produksi dan distribusi. Kalau-kalau ada masalah maka pemerintah bertindak cepat.

Kelompok kedua adalah pedagang dan kelompok distributor lain. Harga cabai tinggi, menurut mereka, karena ketersediaan juga menipis. Suplainya kurang. Jadi harga harus dinaikkan.

Kelompok ketiga adalah ibu-ibu yang gemar berbelanja. Merasa harus menambahkan bahan lain seperti tomat pada racikan sambalnya.

Kelompok keempat adalah petani. Mereka bersyukur karena harga cabai tinggi sehingga memperoleh keuntungan dan mampu menutup hutang pupuk dan hutang lain yang digunakan untuk menutup ongkos produksi.

Kelompok terakhir yang terdiam saja, tanpa bicara, tetapi dengan segera menyusun media tanam di rumahnya. Lima pot untuk lima batang cabai. Kelompok terakhir ini berprinsip,”…sekarang boleh langka dan mahal, tapi kalau sudah tanam begini, 2 bulan lagi kita tidak kesulitan memenuhi kebutuhan cabai lagi.”

Tidak ada komentar:
Write komentar

Terbaru

Sistem Keamanan Lingkungan (SISKAMLING) Apakah Masih Diperlukan?

SOBAT MEDIA – Desa dengan berbagai aktifitasnya menuntut setiap warga untuk selalu sibuk. Warga tidak hanya bekerja soal pertanian dan pet...