Sekalipun mengungsi, penghayatan dan pengharapan warga lereng tidak berubah. Mereka yakin bahwa Sang Pencipta punya rencana.
Mayoritas penduduk lereng adalah Petani. Lahannya yang subur membuat penduduknya makmur dan berkonsen pada bidang pertanian.
Lahan-lahan digarap dan kemudian menghasilkan varietas khas nan unggulan: jeruk medan. Orang lebih mengenal dengan jeruk Brastagi.
Selain jeruk, komoditas pertanian yang dihasilkan warga lereng Sinabung adalah cabe dan tomat.
Kondisi ini seketika berubah ketika puncak Sinabung meletupkan amarah. Tumbuhan lereng diterjang awan panas. Semuanya luluh lantak dan tidak menyisakan suatupun yang hidup. Warga di tiga kecamatan yakni Simpang Empat, Tiga Nderket, dan Naman Teran mengungsi.
Sinabung dipandang sebagai pemberi hidup. Apapun bisa menghidupkan. Orang-orangnya mendapat berkah.
![]() |
| Repita Sembiring Meliala Tokoh Masyarakat Karo |
Ungkapan demikian sesungguhnya bukanlah ungkapan keputusasaan. Karena warga tidak kehilangan harapan. Menurut Repita, warga tetap berharap relokasi dapat menjanjikan hidup baru dan usaha ekonomi yang baru.
“...relokasi cepat terlaksana,” demikian harapan warga yang terdampak letusan gunung Sinabung dan sedang mengungsi.
Warga lereng Sinabung begitu mencintai alamnya karenanya tidak kehilangan harapan untuk hidup yang lebih baik.


Tidak ada komentar:
Write komentar