Berikut adalah kearifan lokal yang termanifestasi dalam ajaran moral hidup orang-orang desa, “...jangan adigang, adiluhung, adiguna.” Maksud dari tiga frase itu adalah:
1.Adigang. Gambaran seseorang yang angkuh memamerkan kewenangan. Hidupnya melulu mengejar jabatan tinggi dan kekuasaan. Orang ini begitu otoriter dan sewenang-wenang. Ia tidak siap berkompetisi sehingga orang lain dianggap sebagai saingan dan musuh.
2.Adigung. Gambaran orang-orang yang pamer harta dan martabat. Harta adalah capaian hidup dan menjadi segala-galanya. Orang-orang ini bgitu kalap sehingga melihat harta dan uang sebagai yang utama.
Untuk menumpuk harta dan martabat, apapun dilakukan. Termasuk didalamnya merenggut hak dari orang-orang jelata. Yang miskin dianggap sebagai orang-orang rendah.
3.Adiguno. Gambaran orang-orang yang menyombongkan ilmu. Orang-orang lain yang tidak punya ijazah dan tidak punya pendidikan dianggap sebagai orang bebal dan tidak berhikmat.
Pada akhirnya, kemanusiaan mulai direndahkan dan menganggap kepintaran diri ini setara dengan dewa.
Sesepuh senantiasa mengajar agar kita Jangan menyombongkan harta milik, jabatan, atau kepintaran. Keangkuhan dan kesombongan itu menggerogoti kemanusiaan dalam diri kita.
Ajaran moral ini dihidupi oleh orang Jawa di pedesaan khususnya. Mereka menghidupi tatanan nilai demikian dan terbukti ampuh menjaga kerukunan hidup antar warga.

Tidak ada komentar:
Write komentar