Tamu harus meminum ramuan tertentu, berjalan dalam jarak tertentu, atau makan bahan-bahan lokal yang diberikan oleh ketua adat setempat.
Di Gunungkidul, orang bisa bertamu kemana saja dan kapan saja. Asal saja waktunya tepat (tidak malam sewaktu orang tertidur pulas) maka warga Gunungkidul siap untuk membukakan pintu.
Dalam menyambut tamupun, orang Gunungkidul mempertimbangkan tiga hal utama. Tiga hal tersebut yakni:
Pertama, lungguh. Lungguh berarti duduk atau tumpuan bermakna tuan rumah haruslah mempersiapkan tempat dan peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan bertamu. Misalnya saja, tikar untuk tamu yang lesehan. Kursi untuk tamu yang ingin duduk di kursi.
Kedua, gopoh. Gopoh bermakna bahwa tuan rumah harus senantiasa berusaha menyenangkan tamu. Sambutan yang diberikan selalu diatur semeriah dan semarak mungkin. Suasana hangat dan ramah adalah kunci menyenangkan tamu.
Ketiga, suguh. Tamu yang datang juga diberi jamuan. Ada suguhan nikmat yang mengundang selera. Bila tidak ada haruslah diadakan.
Dengan pertimbangan inilah orang-orang mempertimbangkan dapat menerima tamu atau tidak. Tamu disambut sedemikian rupa maka Tepatlah pepatah “tamu adalah raja”.

Tidak ada komentar:
Write komentar