SOBAT MEDIA – Era Reformasi Indonesia tepat diperingati pada 21 Mei setiap tahunnya. Pada tahun 2016 ini, reformasi Indonesia telah mencapai usia 18 tahun. Sungguh usia yang masih belia tetapi sudah layak untuk beranjak dewasa.
Suara-suara perubahan didengungkan ketika negeri ini dinilai penuh dengan ketakutan. Suara-suara ini kian menyeruak di pelosok-pelosok negeri berbarengan dengan krisis multidimensi.
Bagaimana mungkin negeri yang demokratis, menurut para aktifis ketika itu, dipimpin oleh suatu kekuatan tunggal yang punya pengaruh kuat dalam berbagai sendi kehidupan berbangsa? Tentulah keadaan ini menisbikan kata demokrasi itu sendiri.
Pada sisi lain, bagaimana mungkin kemakmuran dicapai tanpa ada pembangunan ekonomi makro? Bagaimana mungkin kita bisa hidup tanpa bantuan yang kala itu dibutuhkan untuk pembangunan?
Suara-suara yang berbeda ini mendengung keras dalam ranah-ranah akademik dan publik. Semua orang dari berbagai lapisan membicarakannya. Kemudian bangsa Indonesia memilih suatu cara baru dalam menatap Indonesia baru.
Indonesia baru dicapai dengan reformasi ekonomi, reformasi pemerintahan, dan reformasi sosial. Krisis harus cepat ditangani dan masyarakat harus memilih. Tinggal diam dalam keterpurukan adalah sia-sia dalam kehidupan.
Pilihan itu dihayati sebagai suatu perubahan. Perubahan yang diharapkan bisa mencapai pada keadilan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Perubahan itu haruslah adil dan berujung pada kesejahteraan. Kesejahteraan yang dicita-citakan bersama. Sudahkah kita sejahtera?

Tidak ada komentar:
Write komentar