SOBAT MEDIA - Hijau, hijau, dan hijau, inilah warna kedamaian yang membentang luas di tanah cendana musim penghujan. Dari ujung barat Waitabula hingga Waijelo semuanya menghamparkan karpet hijau.
Sepotong kedamaian surga itu jatuh di tanah Lewa, suatu kecamatan di Kabupaten Sumba Timur.
Jajaran rumput ilalang membentang pada savana tanah Lewa. Hijau di musim penghujan dan kuning kecoklatan di musim kemarau, demikianlah keadaannya.
Rumput menghijau demikian menjadi berkah. Para peternak tidak ragu melepaskan ternaknya pada bentangan alam yang mendamaikan ini. Warga Lewa Umamanu telah lama mengusahakan savana sebagai sumber penggerak kehidupan ternak mereka.
Hujan memang tidak turun sepanjang tahun. Tetapi pada waktu-waktu tertentu hujan turun dan menghijaukan padang. Aktivis tanah Lewa, Betrik Lay menyatakan,”...pada awal tahun, Lewa sering hujan, jadi masih hijau.”
Menurut pengamatan Betriks, orang-orang memanfaatkan savana untuk ternak. Bila musim hujan berakhir maka savana dibakar agar tumbuh rumput hijau di musim penghujan tahun depan.
Pembakaran savana tidak sepenuhnya menguntungkan karena bisa mengganggu keseimbangan kandungan unsur hara tanah. Polusi udara akan meningkat akibat pembakaran ini.
Savana hijau bisa dikembangan menjadi objek wisata. Semua orang yang mengunjungi akan mendapat kepuasan. “pemandangannya begitu indah dipandang mata dan menyejukkan hati,” kata Betriks.
Tempat ini bisa dijadikan sumber inspirasi dan refleksi.

Tidak ada komentar:
Write komentar