SOBAT MEDIA - Denay, seorang aktifis backpacker asal Klaten, mengungkapkan keprihatinannya soal sampah. Ini bukan Jakarta yang sedang berbenah. Ini juga bukan soal kota-kota lain yang sedang sibuk membangun hutan beton. Tapi ini soal alam kita.
Alam dan sampah, samasekali dua hal yang tidak boleh berdekatan, apalagi berdampingan.
Sampah bisa saja hadir di alam, sekalipun alamnya sudah dikomersilkan. Peringatan pengelola alam tersebut sudah memberi peringatan agar menjaga kebersihan.
“...sayang sekali pernyataan itu tak diindahkan oleh para pengunjung,” ungkap Denay.
Pengalamannya mengunjungi tempat-tempat tinggi nan asri membuat kecintaannya bertumbuh dengan sendirinya.
Prinsip denay jelas; jangan ambil sesuatu kecuali gambar, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu, jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak.
Prinsip inilah yang membuatnya tergugah ketika melihat sampah di alam terbuka. ”...jadi bawaannya kalau lihat sampah langsung refleks mungutin,” tambah Denay.
Menurutnya, sampah itu susah terurai. Sampah plastik terurai dalam 50 tahun. Sampah beling terurai dalam 1000 tahun. Aluminium foil tidak bisa terurai.
Pernah suatu kali berbekal peralatan seadanya, tanpa sarung tangan untuk mengamankan tubuh dari kuman, Denay mengumpulkan sampah
Dua plastik dari toko berjejaring itu penuh sesak oleh botol-botol, tisu, bungkus makanan, rokok, dan botol-botol beling.
Denaypun tidak segan mengungkapkan keprihatinannya pada setiap media sosial yang dimilikinya.

Tidak ada komentar:
Write komentar