Tapi seberapa efektif tingkat interaksinya? Interaksi selalu berbicara dua arah. Ada dua pihak yang dilibatkan. Pihak pertama adalah mahasiswa dan pihak kedua adalah masyarakat. Interaksi ini bisa efektif bila dibangun dengan cara-cara dan prinsip take and give.
Septi Dadi misalnya, seorang mahasiswa Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, mengungkapkan kesannya ketika harus menjalani praktik lapangan di Semin, Gunung Kidul. Saling memberi dan menerima (take and give) menurutnya lebih efektif bila waktu dan ruangnya diperpanjang.
![]() |
| Septi Dadi (Putri) Mahasiswa Praktek Lapangan Dusun Blembem, Desa CandirejoKec. Semin, Gunung Kidul, DIY |
Memang pada akhirnya mahasiswa yang lebih banyak belajar. Bila pada jaman dulu mahasiswa masuk ke desa untuk membagi ilmu, maka sekarang tren ditambah, bukan sekedar berbagi pengalaman dan ilmu tetapi juga mendapat ilmu dari masyarakat.
“...orang desa itu lebih tepat waktu...” ungkap Putri ketika harus menyelenggarakan diskusi bersama masyarakat.
Inilah nilai-nilai yang bisa dipelajari dari masyarakat desa. Mereka disiplin dan bertanggungjawab atas waktu yang telah disepakati.


Tidak ada komentar:
Write komentar