28 November 2016

Penghapusan Ujian Nasional Menghargai Proses Belajar Sehari-hari

SOBAT MEDIA - Menteri Pendidikan Nasional menghapus penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) dan menyerahkan kelulusan pada daerah. Penghapusan ini menjawab harapan sebagian pemerhati dan aktifis masyarakat. Sebagian kalangan menilai penyelenggaraan UN kontraproduktif dan tidak signifikan terhadap peningkatan kualitas naradidik.

Pendidikan itu berorientasi pada proses dan bukan berorientasi pada hasil akhir yang belum begitu jelas ukurannya. Dengan dihapuskannya UN, maka berarti penghapusan itu menghargai proses.

Penggantian UN menjadi istilah lain tidaklah masalah selama tidak mengurangi esensi dari proses pendidikan itu sendiri. Proses yang dimaksu adalah proses pendidikan yang selama ini dilakukan oleh para pendidik.

Proses itu meliputi pemberian materi, pemahaman dan nilai-nilai moral, lalu siswa diuji kemampuannya lewat ulangan harian. Selanjutnya, ulangan harian diberi nilai. Nilai itu diakumulasi bersama dengan nilai tengah semester dan nilai akhir semester. Bila nilai evaluasi tidak memenuhi standar maka siswa dikenakan remediasi. Siswa yang memenuhi standar akan diberi pengayaan.

UN yang dijalankan selama ini dipandang tidak mengakomodasi sepenuhnya proses belajar. Siswa yang memiliki kompetensi cukup belum tentu lulus dalam Ujian Nasional. Dari situ kemudian muncul ungkapan bahwa perjuangan tiga tahun ditentukan oleh ujian selama tiga hari.

Hari ini dibutuhkan formulasi tepat dalam menggambarkan hasil kompetensi siswa. Kemampuan siswa beragam dan memiliki kompetensi yang berbeda.

Penulis:
Paulus Eko Kristianto, S. Si(teol)
Praktisi Pendidikan dan Kandidat Magister pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Tidak ada komentar:
Write komentar

Terbaru

Sistem Keamanan Lingkungan (SISKAMLING) Apakah Masih Diperlukan?

SOBAT MEDIA – Desa dengan berbagai aktifitasnya menuntut setiap warga untuk selalu sibuk. Warga tidak hanya bekerja soal pertanian dan pet...