Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

16 November 2016

Menjaga Tutur Kata Dan Tenggang Rasa Pedesaan

SOBAT MEDIA - Gaya bertutur orang-orang desa memang cenderung pasif. Mereka lebih banyak mendengar orang lain yang berbicara tentang isu-isu dari luar desa. Mendengar berita luar, cukup dibatin saja. Lalu nanti bila sudah sampai di rumah dibicarakan bersama keluarga atau tetangganya. Bila tetangga tidak merespon, maka topik pembicaraan akan lenyap terbang oleh angin lalu. Namun, pembicaraan akan berlangsung berhari-hari (menjadi topik utama) bila informasi yang didapat cukup menarik dan penting.

Topik pembicaraan bisa bermacam-macam. Bisa soal ekonomi, sosial, dan moral. Dari bapak di halaman hingga ibu yang sedang memasak akan tenggelam dalam topik yang mereka gandrungi.

Ada beberapa hal yang layak menjadi teladan bagi kita. Sebanyak apapun pembicaraan yang digelar, tidak pernah suatu topik diulas untuk menyinggung orang lain atau menjelek-jelekkan mereka. Sebisa mungkin pembicaraan digelar tidak untuk memupuk kebencian.

Kebiasaan bertutur kata sopan menunjukkan betapa orang desa menjunjung tinggi toleransi. Mereka tidak berujar kebencian dan tetap menjaga perasaan satu sama lain. Dengan menjaga tutur kata, tenggang rasa dari masyarakat Desa terbukti ampuh menjaga harmoni.

12 November 2016

Relevansi Ungkapan Mangan Ora Mangan Kumpul

SOBAT MEDIA - Ungkapan Jawa senantiasa sarat makna. Orang belajar nilai-nilai kehidupan dari setiap ajaran yang terkemas dalam ungkapan. Salah satu ungkapan yang masih populer di hati Masyarakat Jawa adalah Mangan ra Mangan kumpul.

Pada jaman dahulu, ungkapan Mangan ra Mangan kumpul merujuk pada konteks kekeluargaan dalam Masyarakat yang ingin kesatuan keluarga. Apapun keadaan keluarga, tetaplah berkumpul. Entah dalam Keadaan untung atau Tidak keluarga Harus Tetap kumpul. Setiap masa punya kesusahan dan kemakmurannya sendiri. Dulu makan gampang dan uang susah. Sekarang uang gampang dan makanan susah. Memang Jaman punya keunikannya sendiri.

Konteks sekarang, hampir tidak terlihat Lagi tradisi ini. Keadaan masyarakat sekarang menuntut orang untuk eksis menyiasati kehidupan, pekerjaan, dan karyanya. Yang muda harus bekerja. Muda bekerja harus merantau. Misalnya daerah-daerah pantai selatan pulau Jawa. Ada gula-gula rejeki yang harus dikais dengan menjadi semut-semut pekerja. Bekerja harus merantau. Merantau tidak lagi berkumpul.

Kita bisa dipanggil lagi untuk kumpul. Hari raya membuat orang terpanggil untuk kumpul lagi. Berkumpul bersama keluarga. Ini untuk memenuhi panggilan dan rasa untuk kumpul.


Penulis;
Vicky Tri Samekto
Penyair Tinggal di Yogyakarta

Inilah Peran Keluarga Ketika Menyukseskan Suatu Hajatan

SOBAT MEDIA - Kesuksesan suatu pesta atau hajatan dipengaruhi oleh banyak faktor. Persiapan matang tuan rumah menentukan keberhasilan suatu pesta. Kemeriahan dan khidmat suatu pesta rupanya juga tidak terlepas dari orang-orang atau keluarga yang membantu. Berikut ini peran anggota suatu keluarga dalam membantu suatu hajatan.

Seorang bapak berperan membantu Kesuksesan pesta sebagai among tamu, pembuat minuman, atau mendirikan tarub. Hal-hal yang dianggap memerlukan daya lebih senantiasa diserahkan pada bapak-bapak.

Para ibu juga bisa bertindak sebagai juru masak atau among tamu. Para ibu dapat memasak kudapan snack atau jajanan tradisional, memasak sup, lauk-pauk, minuman es dan sub buah, serta menjaga stok logistik saat jalannya hajatan.

Kaum muda merupakan sumber daya multifungsi. Mereka bisa membantu para ibu di dapur atau para bapak mempersiapkan peralatan dan perlengkapan hajatan. Namun, yang paling utama dan tidak bisa digantikan adalah peran anak-anak muda bertindak sebagai pembawa baki. Entah baki berisi makanan atau minuman.

27 Agustus 2016

Berikut Tanggapan Ulama Muda Pada Maraknya Pembangunan

SOBAT MEDIA - Pembangunan yang kita lihat bukan hanya berbentuk gedung tapi juga pengecoran permukaan tanah. Secara sekilas, pengecoran atau yang biasa disebut betonisasi ini, tidak menimbulkan kesan buruk. Bahkan, setiap lahan di suatu wilayah yang dicor, cenderung tampak lebih rapi dan indah (kalau tidak dicor akan becek dan susah dibersihkan). Namun, keadaan indah itu ternyata bukannya tanpa resiko.

Tampungan air menjadi sempit diiringi dengan daerah resapan air. Teorinya, sepertiga suatu wilayah harus menjadi kawasan terbuka hijau. Tapi kenyataan tidak demikian. Resiko jangka panjangpun seolah tidak menjadi perhatian utama masyarakat saat ini. 

Petrus Hari santosa, seorang ulama yang tinggal di Jawa Timur, menyatakan keprihatinannya. Dia katakan proses betonisasi berdampak pada daerah resapan. Yang jelas berdampak pada sirkulasi air, khususnya air hujan, yang kemudian menyebabkan banjir. Selain itu, betonisasi jelas menurunkan air (bawah) tanah.

Manfaat pembangunan memang membuat suatu ruang publik terlihat rapi, tertata, cenderung bersih (mudah dibersihkan). Situasi dilematis, pembangunan tetap manfaat. Perlu kecermatan untuk betonisasi yang benar-benar jadi fasum (misal Jalan raya, jalan2).

Betonisasi, menurut Ulama Petrus, tidak hanya soal pembangunan di perkotaan saja. Alih fungsi lahan di pinggiran kota, dari lahan pertanian kepada lahan perumahan juga patut menjadi perhatian. Kita memerlukan pembaharuan pemahaman tentang alih fungsi lahan produktif  ke lahan hunian, maupun industri yang jelas akan menambah luas betonisasi. Tidak bisa hitam putih soal betonisasi, kita butuh betonisasi tapi kita juga butuh daerah resapan tanpa beton.

Narasumber: 
Petrus Hari santosa, S.Si(theol)
Ulama Muda Tinggal di Jawa Timur

09 Agustus 2016

Gelar Pesta Pernikahan Sesuai Kemampuan Finansial

SOBAT MEDIA - Pernikahan menjadi perhelatan agung. Setiap orang menghormati momen bahagia ini sehingga mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk kemegahan pestanya.

Karena pesta pernikahan mengundang penghormatan tinggi, orang kemudian menginginkan dirinya menjadi seorang putri, ingin penampilan yang paling menarik dalam pesta itu, atau ingin sekali menjadi pusat perhatian.

Dekorasi, busana, dan kuliner yang disajikan kemudian disusun menyesuaikan kerinduan kedua mempelai. Dekorasi megah, busana mewah, dan kuliner meriah direncanakan untuk menggelar perhelatan yang mungkin saja terjadi sekali seumur hidup ini.

Di tengah kerinduan menggelar pesta megah yang begitu tingginya, kita kadang lupa akan kemampuan yang dimiliki. Ya, benar, pernikahan hanya dialami seumur hidup. Namun, pesta yang berkesan tidak harus dilaksanakan secara mahal-mahalan. Cukup diselenggarakan saja secara sederhana tapi penuh makna.

Kesederhanaan tapi bermakna bisa ditunjukkan lewat pengelolaan dana. Dana pernikahan biasanya tinggi karena harus persiapkan segala macam kebutuhan. Namun, jangan sampai pernikahan itu meninggalkan hutang di sana-sini. Berhutang berarti minus dalam memulai keluarga baru.

Pesta pernikahan yang bisa diselenggarakan di rumah tidak perlu menyewa aula gedung yang mahal. Dengan pesta di rumah, kemeriahan menjadi milik kita dan para tetangga.

Sajian khas berselera biasanya lebih terjangkau menggunakan makanan dan snack tradisional. Dengan sajian ini kita masih bisa memaknai budaya dan mengajarkan tradisi pada anak cucu.

Bagaimana Cara Tradisi Jawa Menentukan Musim Tanam?

SOBAT MEDIA - Orang-orang Jawa masih kental dengan kehidupan Agraris. Kehidupan pertanian menjadi salah satu sektor tumpuan bagi sebagian masyarakatnya. Sumber pangan ini telah diusahakan turun temurun. 

Dalam kehidupan masa kini, orang tidak bergantung pada tata musim tanam yang sudah diajarkan oleh tradisi. Musim tanam diatur sedemikian rupa karena orang-orang Jawa di jaman dulu telah mencoba memahami tanda-tanda musim.

Tanda-tanda musim ada dalam bulan-bulan tertentu yang kemudian disebut pranata mangsa. Setelah ajaran pranata mangsa ini diterbitkan, para petani menanam dan menabur sesuai dengan penanda musim.

Mereka menanam pada bulan tertentu. Misalnya menanam pada bulan di musim penghujan. Tidak menanam sewaktu musim kemarau. Demikianlah benih-benih ditanam sesuai dengan musim.

Benih yang ditanampun hasil olahan sendiri. Hasil panenan sendiri. Waktu itu belum ada teknologi rekayasa benih sehingga petani secara mandiri menyisakan hasil panenan untuk ditanam lagi. 

Masyarakat agraris berusaha memahami alamnya. Musim bukan hanya soal kemarau dan penghujan tetapi juga soal hama. 

Hama yang pertama misalnya soal tikus. Tikus bukanlah hewan yang dibasmi dan dimusuhi tetapi dianggap sebagai bagian dari rantai makanan. Kalau tikus mulai banyak berarti ada siklus rantai makanan yang terganggu.

Begitu lekatnya masyarakat agraris dengan tanah dan lingkungannya maka mereka berusaha memahami setiap tanda dan perubahan yang terjadi pada alam dan lingkungan mereka.

Terbaru

Sistem Keamanan Lingkungan (SISKAMLING) Apakah Masih Diperlukan?

SOBAT MEDIA – Desa dengan berbagai aktifitasnya menuntut setiap warga untuk selalu sibuk. Warga tidak hanya bekerja soal pertanian dan pet...