Demikian juga dengan permainan. Dulu banyak banget permainan yang mengandalkan pikiran, kecerdikan, dan ketangkasan otot. Sekarang semua serba digital yang cukup mengandalkan jari-jari dan pikiran tanpa perlu mengucurkan keringat.
Dari sisi waktu dan energi memang cukup efisien, tapi dari sisi kebugaran ya merugikan. Games di gadget tidak melatih kebugaran otot sehingga resiko jatuh sakit sudah di depan mata.
Sedemikian pesatnya laju perkembangan permainan di kalangan anak-anak dan dewasa menjadikan kita kesulitan untuk mencari permainan tradisional. Tapi jangan melulu cemas dengan perkembangan. Di Gunungkidul sendiri, orang masih bisa menemukan permainan tradisional di lingkungan tempat tinggal warga.
Yang mungkin anda akan temui biasanya adalah lompat tali. Itu yang pertama, lompat tapi bisa menggunakan karet ataupun tumbuhan merambat. Dulu permainan ini adalah untuk anak-anak perempuan tetapi bisa juga dimainkan oleh laki-laki.
Yang kedua adalah engklek atau sunda manda atau pecle dalam bahasa Sunda. Permainan ini menggunakan batu atau lempengan tembikar untuk gacuk. Kotak yang terdapat gacuk ini boleh dan tidak boleh diinjak.
Yang ketiga adalah slodoran atau gobak sodor. Pola permainan sama anak-anak dibagi dalam dua kelompok dan satu kelompok berjaga sementara kelompok yang lain berusaha melewati empat jendela tanpa tersentuh.
Yang keempat adalah jumpritan atau jetong delikan. Permainan ini mewajibkan anak-anak untuk bersembunyi dan harus berjaga ketiga ketahuan.
Daftar permainan lain yang bisa dijumpai adalah balap karung, egrang, bethik, dakon/congklak, bentengan, ular naga panjangnya, cublak-cublak suweng, gasing, ketapel, dan gundhu/kelereng.

Tidak ada komentar:
Write komentar