Tampilkan postingan dengan label Krisis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Krisis. Tampilkan semua postingan

28 November 2016

Apakah Benar Air Bersih Bisa Menjadi Langka?

SOBAT MEDIA - Kelangkaan air bersih mulai disadari sebagai ancaman. Beberapa negara mulai mengantisipasi krisis tersebut. Krisis air bukan perkara mudah. Air menjadi kebutuhan bukan hanya untuk dapur tapi juga untuk kepentingan pertanian. Namun, tetap saja ada negara-negara yang belum menyadari ancaman ini.

Bicara soal negara memang terlalu luas. Oleh karenanya marilah kita identifikasi anggapan dari orang-orang tentang ketersediaan air bersih. Anggapan ini bisa beragam karena kondisi geografis maupun pandangan filosofis yang berbeda.

Ada saja orang yang menganggap hujan senantiasa turun, sungai tetap mengalir, sumur digali juga akan mengeluarkan air, kenapa harus resah? Tidak ada alasan untuk resah. Semua baik-baik saja dan air berlimpah-ruah.

Kelompok yang mengantisipasi krisis air mengatakan bahwa sumber-sumber air kita telah susut. Daerah resapan air mulai beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perumahan, property, dan kawasan ekonomi lainnya.

Hari ini kita membutuhkan studi komprehensif soal tata kelola air. Marilah kita duduk bersama berbicara soal realita. Mari berdiskusi berdasar data dan analisa. Dengan demikian, kita akan punya cara pandang yang sama menyoal ketersediaan air di lingkungan kita.

25 November 2016

Tidak perlu Cemas Akan Isu Rush Money

      
SOBAT MEDIA - Isu Rush Money diasumsikan membuat keuangan suatu negara tidak stabil. Setiap orang menarik dananya di bank dan bank akan kolaps. Lalu apakah yang dimaksud dengan Rush Money? Rush money adalah upaya penarikan uang tunai yang ada di bank dan bank akan mengalami kekosongan kas sehingga dipastikan merugi.

Bisa dibayangkan bila kita berada dalam kondisi tidak punya uang. Tidak ada modal yang bisa dipinjam, roda ekonomi akan berhenti, tidak ada modal investasi. Pembiayaan akan  bangkrut. Kehidupan ekonomi makro akan terjun bebas.

Krisis mengancam suatu negeri yang rakyatnya tidak memiliki simpanan. Amat disayangkan bila suatu negara harus meminjam dana pada lembaga keuangan di luar negeri. Bunganya tentu akan tinggi, keuntungan hanya akan dinikmati oleh orang lain.

Bila dana masyarakat disimpan di dalam negeri, Negara akan memiliki alternatif pinjaman. Pemerintah meminjam dana pada rakyatnya sendiri. Tentu ini akan lebih menguntungkan dibanding meminjam di lembaga keuangan luar negeri.

Masyarakat sebenarnya tidak perlu kuatir lagi cemas. Keadaan tidaklah genting. Ekonomi negeri ini relatif stabil. Selama bank masih berada dalam jaminan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), dana yang kita simpan akan dapat selalu diamankan. Orang mendapatkan kenyamanan dalam transaksi perbangkan kita. Ekonomi tetap stabil dan orang tetap merasa aman menyimpan uangnya di bank.

Penulis:
Yopi Pamungkas Saputro, SE
Pemerhati Ekonomi Tinggal di Sragen

08 November 2016

Credit Union: Tetap Eksis Di Tengah Krisis

SOBAT MEDIA - Situasi keuangan negara kita memang tidak mengkuatirkan. Pertumbuhan ekonomi cenderung stabil dan inilah berkah yang harus disyukuri. Situasi demikian tentu saja membuat orang semakin selektif. Orang harus jeli melihat peluang usaha dan mengamankan hartanya.

Masyarakat kita sudah mengenal beberapa lembaga keuangan berikut manfaat yang sekiranya dapat diperoleh. Produk-produk finansial mulai ditawarkan dengan berbagai cara.  Cara itu menarik dan kadang menggugah minat masyarakat menggunakan jasa pinjaman yang ditawarkan.

Credit Union kemudian tampil sebagai lembaga keuangan alternatif. Pihak Credit Union mengklaim bunga pinjaman yang ditawarkan lebih rendah. Credit Union kemudian juga bergerak melakukan ekspansi seperti halnya lembaga keuangan yang lain. Sebagian masyarakat yang sudah menjadi anggota telah merasakan manfaat. Mereka dapat mengelola keuangan keluarga dengan efektif.

Demikian kiranya masyarakat semakin jeli melihat peluang dan alternatif. Krisis dapat ditangani dengan arif bila kita sama-sama bergotongroyong.

25 September 2016

Cara Sederhana Memutus Rantai Bencana

SOBAT MEDIA - Kehidupan manusia tidak terlepas dari gejala Alam. Orang-orang desa khususnya melihat gejala alam tidak selalu positif. Ada gejala alam yang juga harus diwaspadai. Mereka mewaspadai bukan hanya soal memulihkan alam setelah “menggeliat” tetapi juga mencegah kerugian yang besar dari geliat itu.

Pada dasarnya manusia membutuhkan alam. Orang-orang desa melihat alam sebagai berkah dari Pencipta dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran manusia. Orang bisa mengolah alam dan kemudian mendatangkan keuntungan bagi kehidupan.

Sebegitu besarnya keuntungan yang diberi alam sehingga manusia sendiri merasa berhutang dan memelihara alam. Pengalaman hidup yang dirasakan oleh orang-orang selama ini bahwa semakin alam dipelihara semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. Bahkan keuntungan itu bisa diwariskan kepada anak cucu. Udara bersih, air bersih, dan tanah yang subur adalah harta warisan yang tak ternilai.

Kehidupan manusia kemudian berubah. Perubahan itu beriringan dengan kebutuhan dan keinginan manusia yang semakin kompleks. Manusia juga semakin bertambah banyak. Pikiran orang juga semakin maju. Mulailah dirasakan bahwa manusia sudah bisa mengendalikan alam.

Eksploitasi alampun dilakukan besar-besaran. Tidak pandang buluh. Apapun bisa menjadi korban. Hewa, tumbuhan, dan lingkungan dieksploitasi untuk keuntungan manusia. Akibatnya keseimbangan terganggu dan jadilah musibah seperti sekarang ini; banjir, kekeringan, tanah longsor, dan kebakaran hutan.

Lalu bagaimana cara memutus rantai musibah itu? Mulailah dari diri sendiri untuk memelihara dan mulai mencintai alam. Sejimpit cinta kita pada alam akan berdampak besar bagi pelestarian lingkungan.

15 September 2016

Desa Membangun Visi Indonesia Bersih Tahun 2020

 
SOBAT MEDIA - Indonesia bersih bisa dibilang Indonesia yang terbebas dari polusi. Polusi bisa berasal dari sampah, pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran nama baik mungkin, hehe... ya begitulah Indonesia bersih, Indonesia yang terbebas dari polusi.

Indonesia bersih memang didukung penuh oleh desa. Desa bersih maka sebagian besar wilayah Indonesia bersih karena sebagian wilayah darat Indonesia adalah pedesaan. Bagaimana membangun desa yang bersih?

Pertama desa harus terbebas dari sampah plastik. Gunakan plastik yang sudah dipakai dan hindari penggunaan plastik baru. Di desa bisa dijumpai dedaunan untuk pembungkus. Penggunaan daun untuk bungkus bisa meminimalisir penggunaan plastik.

Kedua, desa tidak perlu lagi membakar barang yang tidak perlu. Jadi pembakaran di pekarangan rumah perlu dikurangi untuk meminimalisir asap yang mengepul di udara.

Ketiga, Desa memang menjadi tempat peresapan air yang bagus. Banyak lahan terbuka hijau. Lahan-lahan ini tidak perlu dibeton dan harus dibiarkan terbuka untuk tampungan air. Bahan-bahan kimia juga jangan dibuang sembarangan. Bisa bahaya kalau bahan kimia ini teresap di tanah, air bisa tercemar.

Demikianlah terjadi nantinya. Kebersihan desa mendukung Indonesia bersih. Pemerintah kita juga sudah mulai intensif menggarap wilayah pedesaan. Kiranya desa bersih dapat mendukung tercapainya visi Indonesia bersih tahun 2020.

27 Mei 2016

Inilah Sumbangsih Desa Meminimalisir Dampak Krisis Dunia

SOBAT MEDIA - Krisis dunia menggelayut dengan aneka rupa. Krisis pangan, krisis energi, krisis air, krisis udara bersih, krisis kebudayaan, semuanya melanda . Bila manusia pesimis, jadilah dunia menuju kehancuran. Bila optimis menatap masa depan, maka sesungguhnya harapan itu ada.

Hal-hal berikut ada di desa dan tidak membuat kita pesimis. Kita berharap banyak karena desa terjaga keasriannya.

Pertama, desa adalah lumbung pangan. Bila daerah memiliki wilayah pertanian luas di dalamnya, maka masyarakat desa menjaga kontribusi pangan. Tanpa desa bercocok tanam maka dipastikan suatu daerah akan bergantung pada daerah lain.

Kedua, desa tidak boros energi. Begitu banyak alternatif yang bisa didapat di desa ketika sumber energi impor menipis. Bila tidak ada bahan bakar maka cukuplah memakai arang, briket, atau kayu.

Ketiga, ketersediaan air dan udara bersih. Pepohonan yang alam yang lestari cukup untuk membuat suatu desa memperoleh udara dan air bersih. Suplai air dan udara bersih tidak akan tersendat sepanjang tahun. Keberadaan desa juga mengimbangi kota yang penuh dengan polusi.

Keempat, desa menjaga keharmonisan dan tradisi. Di tengah gaya hidup konsumeris dan individualis ini, desa masih mampu menjaga keramahan dengan sesamanya.

Kiranya keadaan ini membuat kita optimis menatap masa depan di tengah krisis yang sedang melanda dunia.

Terbaru

Sistem Keamanan Lingkungan (SISKAMLING) Apakah Masih Diperlukan?

SOBAT MEDIA – Desa dengan berbagai aktifitasnya menuntut setiap warga untuk selalu sibuk. Warga tidak hanya bekerja soal pertanian dan pet...