Tampilkan postingan dengan label Gunungkidul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunungkidul. Tampilkan semua postingan

02 Juni 2016

Pengalaman Praktek Lapangan: Orang Desa Disiplinnya Tinggi

SOBAT MEDIA - Tingkat efektifitas praktek lapangan bagi seorang mahasiswa diukur dari sejauh mana mereka mampu berinteraksi dengan masyarakat. Semakin efektif berinteraksi maka semakin efektif pula praktek lapangan yang dijalani.

Tapi seberapa efektif tingkat interaksinya? Interaksi selalu berbicara dua arah. Ada dua pihak yang dilibatkan. Pihak pertama adalah mahasiswa dan pihak kedua adalah masyarakat. Interaksi ini bisa efektif bila dibangun dengan cara-cara dan prinsip take and give.

Septi Dadi misalnya, seorang mahasiswa Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, mengungkapkan kesannya ketika harus menjalani praktik lapangan di Semin, Gunung Kidul. Saling memberi dan menerima (take and give) menurutnya lebih efektif bila waktu dan ruangnya diperpanjang.


Septi Dadi (Putri)
Mahasiswa Praktek Lapangan Dusun Blembem,
Desa CandirejoKec. Semin, Gunung Kidul, DIY
Waktu enam minggu tentu saja kurang cukup. Menurutnya, program baru bisa berjalan bila kita diberi waktu lebih dari sekedar satu setengah bulan. “...idealnya cukup tiga bulan,” tambahnya. 

Memang pada akhirnya mahasiswa yang lebih banyak belajar. Bila pada jaman dulu mahasiswa masuk ke desa untuk membagi ilmu, maka sekarang tren ditambah, bukan sekedar berbagi pengalaman dan ilmu tetapi juga mendapat ilmu dari masyarakat.

“...orang desa itu lebih tepat waktu...” ungkap Putri ketika harus menyelenggarakan diskusi bersama masyarakat.

Inilah nilai-nilai yang bisa dipelajari dari masyarakat desa. Mereka disiplin dan bertanggungjawab atas waktu yang telah disepakati. 

27 Mei 2016

Arti Sebuah Nama

SOBAT MEDIA - Nama bagi penduduk Nusantara adalah suatu doa. Oleh karenanya, orang-orang akan memberi nama anaknya sebaik mungkin. Nama itu kemudian menyesuaikan harapan orang tua akan kehidupan dan masa depan anaknya kelak.

Demikian terjadi pada anak-anak Desa. Di Gunungkidul, sekalipun sebagian sudah terpengaruh oleh nama-nama dari luar daerah atau nama latin, sebagian masih memegang teguh penamaan bayi dengan bahasa lokal.

Inilah maksud pemberian nama yang biasa dilakukan oleh penduduk lokal kepada anaknya;

Pertama, nama anak adalah ungkapan harapan. Bila berharap anaknya terhindar dari petaka dan tidak terkena suatu apes maka harapan disematkan pada anaknya itu. Misalnya dengan memberi nama Slamet (Selamat dalam bahasa Jawa).

Nama yang biasa dipakai adalah Untung. Harapannya adalah agar anak itu kelak mendapat untung.

Kedua, nama anak juga dipakai untuk mengingat suatu momentum. Misalnya karena dia dilahirkan pada weton wage (hari dalam bahasa Jawa) maka anak itu dinamakan Wagini untuk perempuan atau Wagiono untuk laki-laki.

Ketiga, nama anak diberikan karena orang tua ingin anaknya nanti punya karakter seperti tokoh-tokoh pewayangan. Maka anaknya biasa dinamakan dengan Kresna, Bima, Gathot, dll.

Keempat, nama yang disematkan karena orang tua mengidolakan artis tertentu sehingga orang tua berharap anaknya kelak juga menjadi artis seperti Iwan, Doni, dll. Anak menjadi kebanggaan.

Setahun Perlawanan, Kiranya Watu Kodok Tetap Damai

SOBAT MEDIA - Rabu, 25 Mei 2016 adalah hari dimana warga yang beraktifitas di Pantai Watukodok memperingati satu tahun perlawanan mereka terhadap pengusaha yang ingin mengelola pantai Watukodok.

Warga menolak pengelolaan oleh pengusaha besar karena itu berarti harus memindahkan warung-warung dan fasilitas wisata lain yang mereka bangun sendiri. Mengembangkan pantai Watukodok tidak mudah, butuh bertahun-tahun. 

Jadi kalau sampai pindah akan membuat banyak kerugian di pihak warga sendiri. Pendapatan mereka turun dan tentu saja sumber nafkah akan terancam sirna.

Pada pihak pengusaha yang ingin mengembangkan pantai Watukodok, mereka telah mendapat surat kekancingan yakni dokumen untuk mengelola area pantai.

Warga telah tinggal pada area pantai ini sejak puluhan tahun sehingga menjadi urat nadi penghidupan ekonomi dan sosial warga.

Situasi menjadi tidak nyaman ketika pengusaha ingin mengeksekusi lahan di sekitar pantai. Eksekusi ini mendapatkan perlawanan dari warga. Warga berusaha untuk menunjukkan aspirasinya dengan berbagai cara.

Terlepas dari situasi ini, Pantai Watukodok menyimpan sejuta pesona. Keadaan itu tidak menyurutkan beberapa wisatawan yang ingin berkunjung ke Watukodok.

Kulinernya yang murah dan gazebo buatan warga sendiri menambah keasrian pantai yang seolah seperti sepotong surga yang jatuh ke Bumi.

Semoga pantai Watukodok tetap damai dan warga Gunungkidul tetap mampu hidup harmonis dan rukun.

24 Mei 2016

Pohon Dan Rumah Antisipasi Cuaca Panas

SOBAT MEDIA - Cuaca panas dihadapi oleh Negara India bila musim penghujan telah lewat. Bukan hanya udara saja yang bikin keringat mengucur deras tapi juga gelombang panas itu bisa membuat aspal meleleh. Udara panas bisa berkisar 35˚C dan pada lokasi tertentu bisa lebih dari 50˚C. Kita berdoa saja agar penduduk India mampu beradaptasi dalam situasi ini.

Cuaca panas itu ternyata juga bisa terjadi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Orang-orang bisa sampai membuka baju untuk mendapatkan udara segar dan menyejukkan badan. Tak jarang mereka harus mandi di malam hari untuk mengatasi panas yang menyengat.

Di Gunungkidul, kita bisa melihat cara pencegahan jangka panjang dan jangka pendek. Hawa panas tidak hanya terjadi sesekali, tetapi kedepan, mungkin saja hawa panas akan menyerang lagi.

Oleh karenanya dibutuhkan upaya pencegahan yang tidak perlu mahal-mahal dalam merencanakannya. Cukup tanam saja satu rumah dengan satu pohon maka kita sudah berkontribusi pada kebutuhan udara segar setiap rumah.

Keberadaan pohon akan menyejukkan lokasi rumah selain menyimpan air hujan yang jatuh. Air tertahan oleh akar pohon dan tidak langsung terbuang ke sungai.

Konstruksi rumah dibuat menghadap mata angin tertentu menyesuaikan bangunan rumah dengan aliran udara. Rumah yang menghadap selatan lebih sejuk karena menghadap arah angin laut selatan.

Inilah Cara Warga Gunungkidul Membranding Daerahnya

SOBAT MEDIA - Bukan hanya keramahan penduduk dan keindahan alam, daya tarik suatu daerah itu juga ditentukan oleh cara daerah tersebut membranding potensi dan aset yang dimilikinya.

Begitu pula terjadi pada warga Gunungkidul. Selain etos kerjanya yang tinggi, warga juga memperhatikan masa depan bersama sebagai wujud tanggung jawab kepada anak cucu. Tanggung jawab kepada anak cucu berupa warisan budaya dan nilai yang tidak akan lekang oleh waktu.

Warganya cerdas dan bekerja keras, demikianlah harapan warga kepada daerahnya. Harapan-harapan itu kemudian termaktub dalam cara warga membranding daerahnya sendiri.

Brand Gunungkidul yang lain adalah kebudayaan yang tetap lestari. Kesenian rakyat senantiasa menghibur ketika warga menyelenggarakan pesta atau syukuran komunal. 

Setiap perayaan tidak selalu membutuhkan biaya tinggi. Yang penting warga sudah bergotong royong berupa usaha, dana, dan daya, itu sudah cukup untuk menyelenggarakan perhelatan.

Seiring perjalanan waktu, bukan hanya tradisi dan seni saja yang dilestarikan, alampun dibiarkan lestari. 

Masih banyak hutan yang luas hijau menghampar dan sungai yang jernih mengalir. Fauna bercengkerama harmonis dengan suara-suara angin.

Lalu bagaimana cara orang Gunungkidul bisa membranding daerahnya? Simpel saja, cintai sesama manusia, Alam dan Pencipta demi keharmonisan.

23 Mei 2016

Visi Gunungkidul Sebagai Kabupaten Maritim

SOBAT MEDIA - Gunungkidul dalam perkembangannya terus menunjukkan pesona dalam berbagai lini. Mulai dari sarana-prasarana yang terus diperbaharui hingga optimalisasi potensi ekonomi dan budaya, semua diarahkan menjadi sumber kesejahteraan warga. Muncullah sekarang pesona dan sejahtera menghiasi langit Gunungkidul. Sekarang saatnya menyambut visi Kemaritiman Indonesia menjadi negara Maritim yang kemudian didaratkan dengan membangun Gunungkidul berbasis maritim.

Bukan sesuatu yang muluk-muluk bila kita ingin menjadikan suatu kabupaten berbasis Maritim. Semuanya mungkin karena potensi sudah ada. Tinggal dikembangkan saja. Disebut potensi karena daya dukung sumber daya sudah mumpuni. Wilayah dengan muka laut menjadikan Gunungkidul berwajah bahari yang maha luas.

Dalam jarak tertentu, ikan-ikan hidup dan berkembangbiak. Nelayan mendapatkan keuntungan dari kondisi geografis ini.

Selain melaut, potensi Maritim Gunungkidul juga digarap dan dioptimalkan melalui pemanfaatan bibir pantai. Beberapa pantai seperti Baron, Sepanjang, dan Gesing sudah mulai dijadikan lokasi budidaya lobster.

Potensi lobster cukup besar baik dari kemudahan budidaya sampai kepada pola pemasaran hasil budidaya. Permintaan lobster dalam negeri dan ekspor cukup tinggi. Untuk menjaga keberlangsungan potensi bahari, pemerintah larang ekspor benih lobster di bawah 200 gram.

Bukan sekedar budidaya laut, visi pembangunan maritim Gunungkidul juga nampak dari pengembangan sektor wisata. Mulai dari wisata bahari hingga wisata bibir pantai. Keberlangsungan pembangunan dan pemeliharaan kiranya terus-menerus diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat agar visi Gunungkidul menjadi kabupaten maritim semakin nyata.

Terbaru

Sistem Keamanan Lingkungan (SISKAMLING) Apakah Masih Diperlukan?

SOBAT MEDIA – Desa dengan berbagai aktifitasnya menuntut setiap warga untuk selalu sibuk. Warga tidak hanya bekerja soal pertanian dan pet...